Ulama UEA Izinkan Dokter Tangani Pasien Corona Tidak Berpuasa

Ulama UEA Izinkan Dokter Tangani Pasien Corona Tidak Berpuasa

LigaCapsa  –  Dewan Fatwa Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan membolehkan dokter, perawat serta tenaga medis lain yang menangani pasien virus corona untuk tidak menunaikan ibadah puasa selama Ramadan.

“Jika ada seorang dokter yang bertanya apakah dia boleh tidak berpuasa karena ada kemungkinan akan mempengaruhi kekebalan tubuhnya, maka orang tersebut berhak tidak puasa selama Ramadan,” demikian keterangan Dewan Fatwa Uni Emirat Arab, seperti dilansir Al-Monitor, Selasa (21/4).

Dewan Fatwa UEA menyatakan para tenaga kesehatan memang tidak diwajibkan berpuasa Ramadan saat wabah virus corona jika dianggap bisa membuat kekebalan tubuh mereka menurun, dan membuat pasien semakin lemah.

Mereka juga untuk sementara menganjurkan supaya para penduduk menunaikan salat Tarawih di rumah dan melarang salah Idul Fitri karena dikhawatirkan membahayakan nyawa orang lain yang dinyatakan haram dalam hukum Islam.

Pemerintah UEA saat ini mulai melonggarkan pembatasan kegiatan menjelang Ramadan. Mereka membolehkan toko penjual bahan makanan di seluruh negeri kembali beroperasi supaya para penduduk bisa membeli bahan pangan menjelang Ramadan.

Mereka juga menyatakan seluruh visa dan izin keimigrasian yang seharusnya kedaluwarsa sejak 1 Maret lalu akan tetap berlaku hingga Desember 2020. Pemerintah juga menyatakan maskapai Emirates akan melanjutkan penerbangan secara terbatas bagi orang-orang yang ingin meninggalkan UEA.

Wakil Presiden UEA dan pemimpin Dubai, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, menyatakan akan menyediakan 10 juta makanan siap santap selama Ramadan untuk para penduduk, terutama para pekerja yang kehilangan pendapatan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan akibat virus corona.

Pemerintah UEA juga menjatuhkan denda sebesar US$5.500 bagi siapa saja yang menyebarkan informasi palsu terkait virus corona.

Kementerian Kesehatan UEA mencatat hingga Kamis (23/4), ada 8.238 kasus virus corona di sana. Sebanyak 52 orang di antaranya meninggal.

Jumlah kasus tersebut menjadi yang tertinggi kedua di kawasan Teluk setelah Arab Saudi.