Pedagang Ponsel: Lebih Baik Jual yang Original Daripada BM

LIGACAPSAPemerintah berencana memblokir ponsel-ponsel black market (BM) yang beredar melalui nomor Identitas Peralatan Bergerak Internasional (IMEI). Aturan pemblokiran direncanakan akan terbit pada 17 Agustus lalu tetapi hingga kini masih belum diterbitkan.

Merdeka.com pun menemui beberapa pedagang ponsel di pusat perbelanjaan daerah Jakarta Pusat. Dodit, salah satu penjual ponsel di sana menyebutkan bahwa dengan adanya wacana itu pihaknya santai. Sebab, dia mengatakan barang-barang yang dijualnya merupakan produk-produk asli yang datang langsung dari perusahaan.

“Kita gak mungkin bohongin sih. Kita lihat dulu, ada segelnya, ada kartu garansinya, kita jelasin semua kalau kita original, bukan black market,” ujar Dodit.

Dodit pun paham betul antara ponsel BM dan asli.

“Kalau black market kan, kartu garansi enggak ada, dari segi charger juga bukan charger bawaan. Chargernya dia itu charger Vietnam yang bukan bulat tapi gepeng,” tutur Dodit.

Sementara itu, Adi, penjual smartphone di pusat perbelanjaan ponsel yang sama, membeberkan ciri-ciri ponsel BM dari sisi kualitasnya.

“Contohnya kalau ponsel tahan air, yang BM tidak. Dari segi kecerahan layar, kalo AMOLED kan terang dan adaptif sedangkan yang BM akan lebih redup. Softwarenya sendiri kan rakitan jadi pasti ada kendala disana,” tutur Adi.

Menurut beberapa penjual di sana, sirkulasi peredaran ponsel BM sendiri tidak di pusat penjualan ponsel besar. Hendra, penjual lain, mengatakan bahwa ponsel BM bisa didapatkan melalui pemesanan sendiri pada pihak ketiga sebagai perakit. Dodit juga menambahkan dirinya pernah menemukan ponsel-ponsel BM yang dijual secara online.

Dari segi pasar, tidak semua ponsel akan memiliki versi BMnya sendiri. Adi mengatakan bahwa penjualan ponsel BM biasanya akan didapati pada ponsel-ponsel kelas atas atau high end seperti Samsung Galaxy S8 ke atas.

“Kalau mid dan low end enggak ada BM-nya. Nanti rugi,” pungkasnya.

Tidak hanya penjual, para pelanggan sendiri juga lebih menyukai ponsel asli ketimbang BM. Ketika ditanya, mereka memberi jawaban yang berbeda-beda meskipun intinya sama. Ada yang sekedar menyukai barang asli dan ada yang memahami dampak kepemilikan ponsel BM.

“Takutnya kena blokir pas peraturan IMEI jalan,” kata Indra, seorang pelanggan.

“Kalau BM nanti pas hapenya kenapa-kenapa gak bisa digaransikan,” tutur Ninik, pelanggan lain. [A.s.A]