Nyeri di Wajah Bisa Jadi Pertanda dari Munculnya Sakit Kepala

LIGACAPSASelama ini sakit kepala selalu dihubungkan dengan masalah berupa nyeri di bagian atas kepala seperti pada tempurung. Namun ternyata hal berupa nyeri di wajah juga merupakan pertanda dari sakit kepala.

Dilansir dari EurekAlert, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa sekitar 10 persen seseorang yang memiliki sakit kepala juga mengalami nyeri di wajah. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Neurology.

“Nyeri wajah tidak dikenali dengan baik sebagai salah satu gejala sakit kepala, sehingga beberapa orang harus menunggu dalam waktu lama sebelum mendapat diagnosis dan penangan yang tepat,” ungkap peneliti Arne May, MD, PhD, dari University of Hamburg, Jerman.

“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nyeri wajah merupakan hal yang umum. Pada banyak orang, rasa sakit ini muncul lebih banyak di wajah dan tidak di kepala,” sambungnya.

Penelitian ini melibatkan 2.192 orang yang mengalami sakit kepala yang tidak dipicu kondisi kesehatan lain. Pada para partisipan, para penderita migrain juga dilibatkan dalam penelitian.

Para partisipan ini diminta mengisi survei mengenai sakit kepala mereka dan apakah mengalami nyeri di wajah. Untuk mendapat hasil yang lebih baik, para penderita sakit gigi yang kemungkinan mengalami nyeri wajah tidak terlibat dalam penelitian ini.

Di antara partisipan penelitian, 29i orang atau 10 persen mengalami nyeri wajah. Hanya 2 persen penderita migrain yang mengalami nyeri wajah.

Peneliti juga melaporkan bahwa enam orang yang mengalami nyeri wajah secara konstan di satu sisi kepala mengalaminya selama 10 hingga 30 menit selama beberapa kali sehari. May menyebut bahwa jenis sakit ini tidak dilihat sebelumnya dan baru muncul kemudian.

“Untuk mendapat pemahaman yang lebih baik dari jenis nyeri wajah ini dan juga untuk mengembangkan perawatan, sangat penting untuk memahami lebih mengenai nyeri wajah ini dan apakah merupakan penyakit yang sama dengan sakit kepala yang muncul di tempat berbeda, atau mereka merupakan dua sindrom yang benar-benar berbeda,” terang May. [A.s.A]