Nasib Pedagang Bendera Musiman di Makassar, Dikejar Satpol PP hingga Omzet Menurun

LIGACAPSA –  Sudah ‘kucing-kucingan’ dengan anggota Satpol PP lalu terusir, penjual bendera merah putih dan pernak pernik 17 Agustus di Makassar tetap berusaha bertahan. Mereka mencari tempat jualan yang aman demi mendulang untung di tengah sepinya pembeli lantaran wabah corona.

Seperti inilah yang dialami Rosliah (48) dan Warni (29), dua ibu rumah tangga yang biasanya berjualan di trotoar pinggir Jalan Ratulangi, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar. Kini keduanya menjajakan bendera merah putih dan pernak pernik lainnya di Jalan Hertasning, Kecamatan Rappocini karena di tempat sebelumnya mereka terusir.

Rosliah, janda 7 anak ini mencoba mengais rejeki dari jualan bendera seperti tahun-tahun sebelumnya meski dia sudah perkirakan tingkat pembelian akan menurun tahun ini akibat dampak wabah corona. Bersama Warni tetangganya, Rosliah keduanya tetap merajut harapan.

Mereka menggelar tikar di trotoar Jalan Ratulangi, menata lembar demi lembar bendera yang akan dijual. Malangnya, lagi-lagi mereka dikejar dan diminta bongkar lapak oleh anggota Satpol PP karena dianggap merusak keindahan kota.

Kata Rosliah, sudah 15 tahun berturut-turut, setiap perayaan kemerdekaan, dia menjual bendera merah putih di sana. Mengingat keuntungan yang menggiurkan, Rosliah pun tidak pernah melewatkan momen itu. Pekerjaan menjual makanan dan gorengan di rumahnya ditinggal sementara demi menjemput untung dari jualan bendera merah putih.

“Berakhir momen 17 Agustus, kami juga sudah tinggalkan. Dan tiap kali jualan, kami selalu membersihkan sekitar agar tidak kumuh. Barang jualan ditata baik. Kami bukan penjual dengan gerobak yang membuat kotor dan menjadikan gerobak sebagai rumah. Kami hanya sebentar, tidak selamanya. Kami ini perempuan yang berjuang menghidupi keluarga, kenapa pemerintah tidak peduli sama rakyat kecil. Di musim corona ini, yang sepi pembeli, kami masih juga diusir,” tutur Rosliah.

Warni, rekan Rosliah menambahkan, tahun-tahun sebelumnya mereka mulai berjualan pada akhir Juli tapi tahun ini baru mulai menjual 1 Agustus lalu. Alhasil, karena diusir mereka mencari tempat lain.

“Kami dapat rumah kosong di Jalan Herstaning ini, trotoar di depannya kosong jadi kami bisa jadikan tempat menjual. Sejak 1 Agustus lalu, tiap harinya hanya laris 2 hingga 3 lembar bendera, itu pun siang hari. Biasanya, masih pagi, sudah antre pembeli yang rata-rata dari langganan tapi karena kami pindah tempat, jadi kehilangan langganan. Kalau berharap pembeli melintas singgah, sangat minim. Kemarin kami coba-coba gelar dagangan di Jalan Ratulangi itu, tapi dapat Satpol PP lagi,” kata Warni.

Jika beberapa tahun silam, kata Warni, keuntungan yang diraup mencapai Rp 5 juta, namun sejak tiga tahun lalu kucing-kucingan dengan Satpol PP, keuntungan hanya dapat Rp 2 jutaan.

“Sepertinya tahun ini kami tekor. Ini sudah dekat 17 Agustus, bendera terjual tidak sampai puluhan lembar. Itu pemerintah, apa tidak kasihan lihat begini kondisinya. Apa susahnya mengizinkan kami jualan di tempat kami sebelumnya, karena ini hanya penjual musiman,” tutur Warni kesal.

Karena sulit cari tempat jualan, Warni dan Rosliah menyatukan barang dagangannya. Tiap satu lembar bendera terjual, dapat untung Rp 2 ribu perak hingga Rp 5 ribu perak.

Bendera dan pernak perniknya itu diambil dari seorang di Kecamatan Biringkanayya. Sistem menjualnya, barang kembali. Jika pemilik barang memberi harga per lembar tergantung jenis benderanya misalnya Rp 15 ribu ukuran 120 cm x 60 cm, maka dijual jadi Rp 20 ribu per lembar. Bendera background ukuran 5 meter seharga Rp 95 ribu, dijual Rp 100 ribu per 5 meter.

“17 Agustus tersisa beberapa hari lagi, masih sepi pembeli,” keluh Warni.