Momen Menegangkan Ibu Bersalin di Rumah Sakit yang Rusak Akibat Ledakan Beirut Lebanon

LIGACAPSA  Tak pernah terbayangkan momen kelahiran sang anak bakal terjadi di tengah situasi darurat. Seperti kebanyakan calon ayah di masa kini,

Edmond Khnaisser saat itu juga merekam sang istri, Emmanuele, yang bersiap-siap untuk melahirkan.

Baru 20 detik di ruang bersalin Rumah Sakit St. George, ledakan hebat terjadi di Beirut, Lebanon, pada Selasa, 4 Agustus 2020.

Dalam video yang diunggah BBC, Kamis (6/8/2020), Edmond merekam dari luar kamar bersalin. Dokter dan empat perawat sudah mengenakan baju bedah

lengkap dengan tutup kepala daan masker. Mereka berbagi tugas, sebagian mempersiapkan peralatan, sisanya mempersiapkan ranjang pasien.

Situasi terlihat normal hingga beberapa detik kemudian terdengar suara. Jendela kaca di ruangan tersebut seketika pecah berantakan, Atap pun roboh menimpa yang ada di bawahnya.

Edmond yang berusaha tenang bergegas masuk ke ruang bersalin. Ia langsung mendorong ranjang tempat istrinya berbaring ke luar kamar.

Setelah memastikan aman, ia baru menolong para tenaga medis yang tertimpa atap dan pecahan kaca.

Semuanya berantakan, kaca-kaca, instrumen, semuanya. Tidak ada yang tersisa, tidak ada satu pun,” kata Edmond.

Namun, persalinan harus tetap berlanjut. Menurut Edmond, proses melahirkan dilakukan petugas medis tanpa bantuan obat atau peralatan medis lainnya.

Selang 1,5 jam kemudian, Emmanuele berhasil melahirkan bayi lelaki dengan selamat. Sang bayi yang dinamai George itu terlihat sehat dan tertidur pulas di ranjang bayi seolah tak terpengaruh dengan ledakan Beirut, Lebanon

Lokasi RS St. George hanya berjarak sekitar lima kilometer dari pusat ledakan di Pelabuhan Beirut. Dampak ledakannya sangat masif bagi rumah sakit terbesar di kota itu.

dr. Marie Eid, dokter anak yang bertugas di RS St. George, menggambarkan kekacauan yang dialami rumah sakit tersebut. Setelah ledakan terjadi, ia

bergegas ke fasilitas gawat darurat bersama koleganya. Mereka mendapati tidak ada satu pun yang tersisa, bahkan mereka tak punya pasokan listrik lagi.

Rumah sakit seperti tercerai berai, kami kemudian memindahkan para pasien ke tempat parkir rumah sakit yang dijadikan sebagai rumah sakit (darurat),” kata Marie.

Ia menyebut orang-orang di rumah sakit itu sangat panik. Kondisi makin kacau karena banyak tenaga medis yang juga terluka tetapi mereka harus merawat

pasien yang membutuhkan pertolongan, seperti di ruang gawat darurat, di ICU, hingga ruang bayi yang dipenuhi anak baru lahir.

Kami juga punya pasien COVID di lantai dan sebagian dari mereka sangat membutuhkan bantuan ventilator dan butuh dipindahkan dan dievakuasi dari gedung. Itu benar-benar kacau di mana-mana,” tuturnya.

Ia mengaku situasi itu merupakan pengalaman yang sangat traumatis baginya. Marie menyebut ia berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi ia ingin membantu

banyak orang yang berjuang hidup, di sisi lain ia tak berdaya karena kondisi tak memungkinkan