Kutipan Inspirasi Surabaya: Fokus Mengejar Impian

LIGACAPSA    –    Berawal dari hobi, perempuan kelahiran 12 Juni 1983 akhirnya menekuni dunia fashion yang membuat namanya dikenal di dunia fashion. Bahkan baru-baru ini, desainer asal Surabaya ini mendapatkan kesempatan untuk membawa karyanya di ajang ASC New York Fashion Week pada 3-15 September 2019.

Desainer tersebut dikenal dengan nama Gita Orlin. Gita menuturkan, dirinya terjun ke dunia fashion lantaran ketidaksengajaan. Sesudah menikah, ia memenuhi keinginan suami untuk tidak bekerja. Namun, ketika menghadiri acara pesta, baju yang dibuat Gita disukai oleh orang-orang. Kemudian dia memutuskan ingin menjual desain baju hasil rancangannya.  Akhirnya dia pun memutuskan mengisi kegiatan dengan ikut kursus fashion sekitar 2008. Awalnya Gita merancang gaun kaftan. Ia mengaku mengikuti kursus tersebut tidak lama.

Hati ini sudah suka di fashion. Sering datang ke acara-acara banyak orang suka baju saya. Dari pada nganggur ikut short course dan masuk asosiasi,” ujar Gita saat dihubungi , ditulis Rabu (16/10/2019).

Perempuan lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini sejak remaja sudah menyukai mode dan mix and match sehingga ketika menekuni dunia fashion tidak menemui kendala. Apalagi setelah tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).

Gabung di asosiasi mulai berkembang. Di asosiasi selama lima kali dalam setahun ada peragaan fashion,” ujar Gita.

Gita mengaku meski tidak memiliki latar belakang fashion, tetapi tidak menemui kendala dalam merancang dan membuat baju. Sejak remaja sudah menyukai mode membantu dia serius untuk menekuni dunia fashion. “Jiwa saya sejak muda di fashion. Untuk jadi desainer harus memiliki taste dan karakter. Karakter itu yang harus dikembangkan,” ujar ibu dari dua anak ini.

Perempuan kelahiran Jakarta ini pun terinspirasi untuk rancangannya saat pergi travelling, browsing di internet, menonton televisi dan membaca artikel terutama mengenai fashion. Meski demikian, dia menegaskan dengan menonton televisi dan melihat artikel fashion tidak berarti menjiplak.

Seorang desainer menurut dia harus memiliki ciri khas dan karakter kuat sehingga berbeda dengan yang lain. Gita menuturkan, kalau rancangannya tersebut memiliki ciri yang girly, detail embroidery, dan main di printing dan gemar memakai kain nusantara terutama batik. “Biasanya cari inspirasi saat malam-malam di rumah jadi tidak hanya dari travelling saja,” kata dia

Baru-baru ini Gita bersama 10 desainer lain yang tergabung dalam Indonesia Modest Fashion Designer (IMFD) membawa karyanya di ajang New York Fashion Week pada 3-15 September 2019. Gita menuturkan, untuk memamerkan karya di ajang tersebut juga ada proses pemilihan oleh panitia.”Memang diajukan tetapi dipilih oleh panitia, dan tidak semua lulus kurasi, ada standarnya,” ujar Gita.

Gita bersama desainer lain berkolaborasi saat memamerkan karya di ajang ASC New York Fashion Week. Tujuan mengikuti ajang ini juga untuk mengenalkan dunia fashion muslim Indonesia. “Indonesia jadi kiblat fashion muslim pada 2020. Ini sebagai ajang membuktikan kalau fashion muslim Indonesia sangat kuat,” ujar dia.

Gita membawa karya yang menggunakan printing tetapi memang motifnya dikembangkan. Dirinya lebih memilih menggunakan printing di atas kain karena lebih efisien. Saat mengikuti ajang tersebut, Gita mengaku mendapatkan pengalaman dan belajar dari desainer lain. Apalagi ia melihat gaya street wear yang kece dan menarik. “Desainer dari luar negeri juga menjadi masukan buat kita,” ujar Gita yang menyukai karya rancangan Elie Saab ini.

Dalam waktu dekat ini, Gita juga akan kembali memamerkan koleksi terbaru untuk 2020 pada 24 Oktober 2018. Ia bersama desainer lainnya akan membawa karya terbaru di Royal Plaza. “Konsepnya nanti Asian Milenial. Seperti gaya Korea tapi style anak muda,” tutur Gita.

Saat ini Gita dibantu oleh 30 karyawan untuk usaha butiknya. 30 karyawan itu terdiri dari penjahit, tukang potong, payet, border dan lainnya. Ia juga didukung oleh keluarga untuk menjalankan pekerjaannya. Gita harus pintar-pintar membagi waktu antara keluarga dan pekerjaannya sebagai desainer.

Alhamdullilah suami sangat mendukung meski kerja tetapi tidak di kantor. Bekerja di rumah. Selain itu memang harus pintar bagi waktu karena anak kadang complain tetapi sejak kecil mereka juga sudah terbiasa dengan dunia yang saya tekuni,”ujar dia. DaftarBandarQ