Mengenal Kelainan Air Ketuban Polihidramnion dan Oligohidramnion

Komedian Asri Welas mengalami diare saat hamil anak ketiganya, Renzo Gibrar Ridharaharja. Ia terpaksa melahirkan sang buah hati secara prematur, disebut-sebut karena kehilangan 50 persen air ketuban.

“Hampir 50 persen air ketuban Asri itu hilang,” kata Asri dalam sebuah konferensi pers.

Beberapa istilah muncul terkait masalah tersebut, yakni polihidramnion dan oligohidramnion. Menjelaskan istilah tersebut, dr Dimple Nagrani, SpA yang mendampingi Asri mengaitkannya dengan kelahiran prematur yang dijalani Asri.

“Oligohidramnion itu kekurangan air ketuban. Jadi air ketubannya kurang buat si kecil karena itu terpaksa harus dilahirkan,” kata dr Dimple.

Sebaliknya, oligohidramnion adalah kondisi kelebihan air ketuban. Dikutip dari Mayo Clinic, polihidramnion terjadi pada 1-2 persen kehamilan.

Sebagian besar kasus hidramnion adalah ringan dan merupakan hasil dari penumpukan air ketuban secara bertahap selama paruh kedua kehamilan. Polihidramnion parah bisa menyebabkan sesak napas, kelahiran prematir, dan berbagai masalah lain.

Gejala polihidramnion yang bisa dikenali antara lain:

– Sesak napas atau tidak bisa bernapas
– Pembengkakan pada anggota gerak bawah dan dinding perut
– Ketidaknyamanan saluran kemih dan kontraksi
– Janin salah posisi

Berbagai kemungkinan penyebab polihidramnion adalah sebagai berikut:

– Kelainan bawaan yang mempengaruhi saluran pencernaan bayi atau sistem saraf pusat
– Diabetes di masa kehamilan
– Komplikasi kehamilan kembar
– Anemia atau kurang sel darah pada janin
– Ketidakcocokan darah antara bayi dan ibunya
– Infeksi saat hamil