Mencari inovasi teknologi di sektor perikanan

 Seputar Ligacapsa – Setiap tahunnya, tingkat kerugian pasca-panen ikan segar yang diderita Indonesia mencapai 25 persen (Dalberg, 2017). Jika kehilangan makanan ini diubah menjadi nutrisi yang hilang, setiap tahunnya masyarakat Indonesia kehilangan hingga 16.500-27.500 metrik ton protein ikan.

Ravi Menon, Country Manager Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) untuk Indonesia, kerugian pasca-panen ikan segar ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya, sebagian besar makanan bergizi tersebut terbuang karena rendahnya penerapan pasca panen yang baik.

“Saat ini, teknologi yang tepat untuk menyimpan, memasarkan, dan mendistribusikan ikan masih dirasa kurang di Indonesia. Akibatnya, kualitas ikan untuk konsumsi masyarakat lokal pun terbilang masih sangat rendah,” jelasnya melalui keterangan resmi, Selasa (16/10).

Maka dari itu, hal ini menjadi perhatian utama I-PLAN (Indonesia-Postharvest Loss Alliance for Nutrition), sebuah program khusus yang dirancang untuk mengurangi hilangnya nutrisi di sepanjang rantai pasokan pangan, besutan organisasi non-profit GAIN. Untuk mengurangi potensial lost itu, diadakanlah pencarian teknologi yang bisa meminimalisir hal tersebut melalui Innovation Challenge.

Kompetisi Innovation Challenge ini diusung untuk mencari 10 finalis yang memiliki ide teknologi atau inovasi baru yang dapat diadopsi oleh pelaku rantai pasokan ikan segar lokal, untuk mengurangi Post-Harvest Loss (PHL) atau kerugian pasca-pangan, yang umumnya menimpa beberapa titik kritis seperti tempat pendaratan ikan, transportasi dan distribusi, pengecer di pasar dan penjual pinggir jalan, sistem penyimpanan kecil, dan bahan alternatif pengganti es.

“Kami mencari solusi dan inovasi yang dapat mencakup titik kritis lokasi pendaratan ikan hingga sampai ke tangan konsumen. Ini untuk memastikan bahwa ikan segar yang dijual berkualitas baik, aman, dan bergizi untuk konsumsi lokal. Tidak hanya untuk daerah perkotaan, tetapi juga untuk masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau terpencil, terutama di daerah pegunungan atau perbukitan. Di daerah-daerah yang sulit dijangkau tersebut, biasanya ikan segar laut sangat jarang tersedia, atau dijual dengan harga yang relatif tinggi,” tambah Ravi.

Pendaftaran kompetisi akan resmi dibuka pada tanggal 11 Oktober 2018, dengan batas pengajuan aplikasi terakhir pada tanggal 16 November 2018. Disediakan hadiah total sebesar 350 juta rupiah untuk 5 hingga 10 pemenang. Para pemenang juga berkesempatan untuk mendapatkan grant dengan nilai total 1 miliar rupiah, untuk melakukan uji-coba prototype di Surabaya dan Probolinggo.