Mengamankan harta sisa gempa

Seputar Ligacapsa – Sejumlah alat perkakas sudah dibawa. Martil, linggis sampai golok. Pali bersiap membongkar rumahnya. Mencari sisa-sisa barang bisa diselamatkan pascagempa dan terjangan longsor di Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Jam 10 pagi dia berjalan dari pengungsian. Ditemani tiga saudaranya. Melewati jalan memutar, menggunakan sepeda motor. Semua terpaksa dilakukan. Dikarenakan akses jalan di Jono Oge terputus setelah terhempas longsoran.

Perjalanan menghabiskan waktu 10 menit. Hingga sampai di Desa Langaleso, Sigi. Menitipkan kendaraannya di rumah warga, Pali dan saudaranya bergegas jalan. Menelusuri sisa bekas lungsuran.

Jalan masih berlumpur. Mereka hanya beralas sandal. Berjalan menyusuri bekas sisa bangunan. Mencari di mana rumahnya berada. Hampir satu jam mencari. Pencarian dihentikan. Panasnya terik matahari membuat mereka tak kuat lagi.

Gagal menemukan rumahnya. Pali malah menemukan rumah bibinya. Keadaannya sudah porak poranda. Hanya atap dan sedikit dinding menahan konstruksi bangunan. “Kita bongkar rumah bibi saja,” ujar dia mengajak para saudaranya.

Desa Langaleso menjadi titik terakhir longsor Desa Jono Oge. Banyak bangunan maupun kendaraan roda dua dan empat terseret sampai sekitar situ. Bahkan banyak juga jenazah ditemukan beberapa hari sesudah kejadian.

Daerah Desa Joni Oge termasuk wilayah paling parah terkena dampak bencana. Seluruh wilayah itu terseret hempasan longsor dari atas bukit berisi perkebunan jagung, tomat dan buah naga.

Pali termasuk beruntung. Dia selamat. Ketika kejadian sedang tidak di rumah. Sedang berada di luar kota. Istri dan anaknya juga demikian. Mereka tengah berdagang.

Satu per satu kayu dibongkar. Dicongkel menggunakan linggis. Mencari jalan ke dalam. Demi menyelamatkan barang dan bisa dibawa balik ke pengungsian.

Tidak banyak barang bisa diambil. Hanya banu, tas dan beberapa barang penting. Hampir dua jam membongkar. Mereka kelelahan. Tanpa membawa bekal makan. Hanya lima buah kelapa hijau dipetik dari sekitar lokasi kejadian.

Waktu istirahat. Mereka meneduh di bawah pohon kelapa. Berkumpul, bercerita tentang kejadian kelam Jumat pekan lalu itu. Masih tidak menyangka bahwa kejadia dahsyat itu melumat habis desa kesayangannya.

Di situ Pali merasa sudah putus asa. Tidak tahu lagi di mana keberadaan kediamannya. Memutuskan tidak mencari lagi setelah beberapa hari belakangan mencari. Menyusuri dari lokasi awal rumahnya berdiri.

“Saya sudah tidak tahu lagi. Dikasih keselamatan pun sudah bersyukur. Alhamdulillah,” ucapnya. Pria itu juga tidak mau memikirkan harta bendanya. Mengikhlaskan. Menjadikan kejadian ini sebagai sebuah peringatan bagi dirinya dan keluarga.

Marak pencurian

Banyaknya kediaman warga terkena gempa, justru menjadi kesempatan bagi para tangan jahil. Mereka tega mencuri. Mengais sisa barang buat keuntungan sendiri.

Seperti di kawasan Petobo, Kota Palu. Banyak warga berdatangan. Isu mengenai adanya pencurian dari rumah terkena gempa memang santer terdengar.

Kami sempat menyambangi wilayah itu pada Sabtu sore lalu. Berjalan sekitar 500 meter dari pinggir jalan menunu ke dalam. Di sana banyak ditemui sekelompok orang.

Berhenti di sebuah rumah. Empat orang pria tengah membongkar bangunan berupa bengkel kendaraan. Mereka mengaku sedang mencari korban. “Ini punya bos saya. Ada dua korban di dalam,” kata salah satu di antara mereka.

Dua orang mencari di dalam. Sisanya berdiri di luar. Mereka sambil mengarahkan. Beberapa peralatan bengkel mereka dapat. Dibungkus dalam dua buah karung

Salah seorang di dalam telah selesai mencari. Disusul rekan satunya. Mereka keluar. Bersiap meninggalkan lokasi. Waktu hari itu sudah mulai gelap. Sekitar pukul 6 sore. Usai adzan Maghrib. Tapi mereka diminta salah satu rekannya di luar untuk tidak keluar bersama-sama. “Jangan bersamaan keluarnya.”

Pria pencari barang di dalam heran mendengar penjelasan itu. Melihat ke kami. “Memang tidak boleh keluar bersama? Inikan barang kami sendiri,” ucapnya.

Tadinya kami ingin keluar dari lokasi gempa bersama. Namun, ajakan kami tidak pernah ditanggapi. Hingga akhirnya kami kembali sendiri. “Oke, hati-hati,” ucap pria berbadan besar dengan tato di kedua tangannya.

Isu pencurian ini diakui warga sekitar. Banyak rumah warga Kelurahan Petobo membutuhkan pengamanan ekstra dari aparat keamanan. Pengamanan diperlukan berhubung banyaknya pencuri dan orang dari luar Palu mengambil barang di rumah milik warga setempat. “Yang masuk ke lokasi mengambil barang-barang korban adalah pencuri” ujar Deni.

Para penyintas gempa disertai lumpur di Petobi tidak lagi memiliki rumah dan harta. Mereka lari menyelamatkan diri bermodalkan pakaian di badan.

Banyak orang tidak dikenal dan bukan penduduk di sana, bebas keluar masuk membawa pelbagai macam barang. Untuk itu diharapkan petugas memperketat keamanan wilayah terkena dampak gempa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *