Rancang Alat Tes Malaria Inovatif, 6 Ilmuwan Uganda Sabet Penghargaan

Berita Unik – Satu tim yang beranggotakan enam ilmuwan Uganda memenangkan anugerah bergengsi. Mereka berhasil merancang alat tes cepat non-invasif untuk malaria, yang diharapkan pada suatu hari nanti dapat digunakan secara luas di Afrika.

Anugerah yang diberikan oleh The Royal Academy of Engineering di Inggris itu disertai dengan hadiah uang hampir USD 33 ribu. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia, Kamis (5/7/2018).

Alat tes cepat non-invasif untuk malaria yang dapat digunakan kembali itu dikenal dengan nama “Matibabu” –-bahasa Swahili yang berarti pusat medis.

Anggota tim ilmuwan, Shafik Sekitto mengatakan bahwa alat itu dapat mendiagnosis malaria dalam waktu kurang dari dua menit.

Sekitto menjelaskan bahwa “Matibabu” menggunakan sensor cahaya, bukan contoh darah, untuk melakukan pengetesan tersebut.

“Ketika seseorang tertular malaria, parasit dalam darah mengubah sifat kimia dan fisiknya. Parasit itu mengubah bentuk sel dan ada kristal yang dipancarkan di dalam aliran darah itu. Jadi kami menggunakan cahaya dan magnet untuk membedakan darah yang tertular malaria dan yang tidak,” jelas Sekitto.

“Pegang selama dua menit, pasien akan meninggalkan sidik jari mereka di lengkungan piranti itu, dan setelah itu hasilnya akan dikirim ke laptop atau ke telpon untuk menunjukkan apakah kita tertular malaria atau tidak,” tambah salah satu anggota lain, Brian Gitta.

Demi Masyarakat Uganda

Menjelaskan lebih lanjut mengenai tujuan merancang alat itu, Shafik Sekitto mengatakan, “Kami mencoba menjembatani kesenjangan masyarakat perihal akses kebutuhan medis mereka dalam memperoleh diagnosis malaria yang tepat.”

Kepala Otorita Obat-Obatan Uganda Medard Bitekyerezo mengatakan ini perkembangan yang sangat menjanjikan bagi negara itu, sehingga akan semakin banyak pasien – terutama anak-anak – yang menggunakannya.

“Malaria adalah salah satu pembunuh utama di Uganda. Saya kira jika inovasi ini bekerja, tidak bakal menyakiti anak-anak,” ujar Bitekyerezo.

Uji coba baru itu akan menjadi penentu yang membantu mengurangi biaya. Tetapi Joseph Okia, seorang dokter di rumah sakit Nakasero di Kampala, mengingatkan bahwa supaya efektif maka piranti itu harus sangat akurat.

“Ketika kita melihat uji medis, kita memiliki sesuatu yang disebut sebagai sensitivitas dan spesifikasi. Sensitivitas artinya seberapa mungkin tes ini mendeteksi seseorang yang tertular malaria. Biasanya kita membutuhkan hasil yang mencapai di atas 95 persen. Perancang “Matibabu” mengatakan hasil uji alat baru ini sekitar 80 persen,” ujar Okia.

Delapan puluh persen kasus dan kematian akibat malaria di dunia terjadi di Sub-Sahara Afrika. Para petugas kesehatan dan ilmuwan berharap alat uji baru ini dapat mengurangi angka-angka tersebut.