AHY: Guncangan ekonomi sedikit saja akan dorong rakyat kecil ke jurang kemiskinan

POLITIK–┬áKetua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk memanfaatkan momentum bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Dia mengingatkan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain.

“Khoirunnas Anfa’uhum Linnas, yaitu sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Tidak sepatutnya, kita hanya duduk membahas permasalahan tapi tidak memikirkan jalan keluarnya. Sekali lagi jangan diam! Do something!,” kata AHY melalui keterangan tertulis, Minggu (10/6).

AHY mengaku telah berkunjung ke ratusan kabupaten/kota di 22 provinsi di Indonesia selama satu tahun terakhir. Selama kunjungan ke ratusan daerah itu, dia telah mendengarkan banyak suara dari rakyat kecil yang tidak sampai ke pemerintah.

Dia mengatakan suara-suara itu lebih jujur dan apa adanya karena tidak dibuat-buat serta tidak bermuatan kepentingan golongan semata.

Dalam kunjungan itu pula, kata AHY, dia telah bertemu dengan berbagai komunitas dan lapisan masyarakat, mulai dari petani hingga kaum milenial. Saat bertemu langsung dengan masyarakat, dia menilai setidaknya ada dua persoalan utama ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.

Pertama, persoalan daya beli masyarakat dan lapangan kerja. Daya beli masyarakat saat ini menurun karena berpenghasilan rendah dan kurang mampu. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan naik secara signifikan.

Persoalan tersebut, kata dia, tentu harus mendapatkan perhatian yang serius. Terlebih, data menyebut sebanyak 28 juta masyarakat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Selain itu, hampir 70 juta orang dinyatakan rentan atau rawan miskin.

Total jumlah masyarakat miskin dan rawan miskin ini setara dengan hampir 40 persen populasi Indonesia.

“Guncangan ekonomi sedikit saja, akan mendorong mereka ke jurang kemiskinan yang lebih dalam,” kata AHY.

Terkait persoalan lapangan kerja, kata AHY, secara kuantitas lapangan kerja yang tercipta setiap tahunnya belum bisa mengimbangi jumlah pencari kerja baru. Indonesia juga masih punya pekerjaan rumah yang cukup besar karena lebih dari 50 juta orang angkatan kerja Indonesia berpendidikan sekolah dasar sehingga tak mudah bagi angkatan kerja Indonesia untuk bersaing dalam kompetisi global.

Masyarakat Indonesia, sambungnya, juga dikhawatirkan oleh isu maraknya Tenaga Kerja Asing (TKA).

“Kita tidak antiasing, tapi kita tidak terima jika rakyat dikalahkan, dinomorduakan atau hanya jadi penonton di negeri sendiri,” katanya.