Rumah Tanggaku adalah Tempat Melatih Kesabaranku

Seputar Ligacapsa – Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri

Aku wanita karier dari sejak awal menikah sampai sekarang aku dan suami LDM (Long Distance Marriage). Sekarang aku sudah memiliki 2 orang anak. Sering aku menginginkan hidup satu kota dengan suamiku, tapi setiap keinginan itu aku ungkapkan kepada suamiku ujung–ujungnya malah bertengkar dan suamiku memintaku untuk resign dari pekerjaanku. Akhirnya aku selalu mencoba bersabar dan berdamai dengan keadaan. Karena walau bagaimanapun aku masih membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan anak–anakku, apalagi sekolah di zaman sekarang itu tidak murah. Seberapa banyak air mata yang kita keluarkan toh hidup tetap harus dijalani.

Aku dan suami sudah hampir 5 tahun menjalani LDM ini, karena keadaan ini aku merasakan setiap suamiku pulang ketika libur Sabtu dan Minggu ada perasaan senang tapi di sisi lain entah kenapa aku merasakan sedih yang aku sendiri sampai saat ini tidak tahu penyebabnya. Atau mungkin tidak hanya aku yang merasakannya tapi perempuan–perempuan yang lain yang sama nasibnya denganku merasakan hal yang sama, itulah pikiran positifku.

Ketika suami di rumah aku merasakan bahwa dia malah mempunyai acara sendiri. Setiap malam ketika baru sampai rumah dia selalu pergi dengan teman–temannya menyalurkan hobinya untuk berburu, dan pulang dini hari. Besoknya karena baru pulang dini hari dia seharian tidur bangun siang atau menjelang sore dan kemudian dia pergi lagi membersihkan mobil.

Di hari Minggu-nya mulai dari bangun pagi dia pergi lagi dengan urusan bisnisnya. Jadi aku dan anak–anakku hanya disisakan waktu di Jumat malam dan malam Minggu yang itu hanya beberapa jam saja. Padahal aku menginginkan suamiku meluangkan waktu yang banyak untuk aku dan anak–anak karena kita hanya bisa berkumpul dalam dua hari itu.

Setiap aku ingatkan dia menurut tapi selalu berulang–ulang lagi sikap suamiku itu. Sampai aku bilang ke suamiku bahwa lebih baik dia tidak di rumah, karena jelas tidak ada dia. Daripada ada dia di rumah tapi seperti tidak ada saja. Ketika aku merasakan kekesalan itu aku selalu emosi dan ingin menangis, sampai ketika aku mengingkatkan suamiku malah tidak jelas apa yang aku bicarakan saking emosinya. Ketika emosiku mulai mereda aku mulai kembali berdamai dengan keadaan. Mustahil manusia hidup selalu sesuai dengan keinginannya. Maka aku selalu mencoba berpikir positif, bahwa mungkin ini adalah ujian hidupku.

Tahun 2017 alhamdulillah aku diberikan kepercayaan lagi oleh Allah untuk hamil anak kedua. Sudah sejak lama suamiku menginginkan akan melakukan investasi ke temannya dengan imbalan kita akan memperoleh mobil baru, tapi aku selalu melarang. Tapi akhirnya aku luluh dan dia melakukan investasi itu. Uang yang digunakan untuk investasi itu adalah uang hasil pinjaman dari bank dengan cicilannya hampir setengah dari gajiku.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan kok belum ada kabar kalau mobil yang dijanjikan akan datang. Sampai aku bilang kepada suamiku bahwa kalau  memang kita ditipu ya sudah jujur saja dan jangan lagi memberikan harapan palsu, lagian aku sudah mengikhlaskan uang itu. Suami selalu bilang sabar karena tidak mungkin temannya itu menipu.

Mungkin Allah memberikan ujian di saat aku hamil adalah keadaan yang tepat, karena kehamilanku mengalihkan perhatianku dari masalah investasi itu. Sampai akhirnya di saat sudah mendekati persalinan anakku aku menelan kenyataan pahit bahwa memang benar kalau investasi itu bodong. Teman suamiku membawa lari semua uang kami dan menghilang entah kemana. Aku beruntung diberikan pikiran dan perasaan yang mudah sekali melupakan, sehingga aku tidak berlarut–larut memikirkan permasalahan ini. Ya sudahlah mungkin ini adalah nilai yang harus kutebus atas rezeki yang telah kuterima selama ini.

Walaupun ada masalah ini tapi untung tidak mengganggu kehamilanku. Aku selalu berdoa anak yang ada dalam kandunganku nanti menjadi anak yang kuat dalam menghadapi berbagai masalah, karena sudah dilatih sejak dalam kandungan. 22 September 2017 anakku alhamdullilah lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun.

Suamiku merasa bersalah kepadaku karena mengabaikan nasihatku, aku merasakan hubunganku dengan dia seperti ada yang mengganjal dan masing–masing tidak mau mengungkapkan. Sampai suatu ketika aku mengutarakan keinginanku untuk tetap membeli lagi mobil dengan pinjam lagi ke bank, dengan cicilan dipotong dari gaji suamiku. Dengan konsekuensi aku tidak mendapatkan uang bulanan dari suamiku. Tapi dia menolak karena takut nanti keuangan keluarga kami semakin berantakan. Tapi di sisi lain aku menginginkan kedua anakku hidup nyaman pergi kemana–mana tidak kehujanan. Apalagi pergi dengan motor berempat pasti sudah sumpek sekali tempatnya.

Aku tetap memaksa keinginanku kepada suami karena pertimbangan hal tersebut, tapi suamiku malah bilang kalau tetap mau pinjam uang untuk membeli mobil maka bila nanti terjadi hal yang tidak diinginkan maka dia tidak mau ikut bertanggung jawab dan tanggung sendiri saja risikonya. Ketika mendengar itu aku merasa sedih, kenapa dia bersikap seperti itu dan mudah sekali menyerah.

Aku berpikir kalau suamiku bilang seperti itu aku sebagai istri merasa ciut juga untuk melanjutkan rencanaku membeli mobil, tapi akhirnya aku bilang ke suamiku untuk mari kita bersama–sama menghadapi masalah ini. Sebenarnya aku sudah lama mengikhlaskan uang kami, karena aku menganggap ini adalah ujian dalam rumah tangga kami, semoga nanti ada solusinya. Dari pembicaraan itu akhirnya suamiku mulai merasa plong dan kami saling memaafkan atas segala hal yang terjadi.

Setiap rumah tangga tidak lepas dari berbagai macam masalah, karena selesai masalah satu akan datang lagi masalah selanjutnya dan begitu terus sampai mata ini tertutup. Dari setiap permasalahan rumah tangga kuncinya adalah komunikasi, karena setiap permasalahan pasti selalu ada jalan keluar asalkan kita saling bahu–membahu demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga kita.

Dalam menghadapi segala permasalahan ini aku selalu berpegang pada firman Allah, “Wahai orang–orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang–orang yang sabar.”(Q.S. Al Baqarah ayat 153). Aku yakin bahwa dengan bersabar suatu saat nanti Allah akan mengganti dengan kebahagiaan walaupun entah kapan tapi percayalah bahwa Allah tidak pernah ingkar janji.