Polri soal Bom Surabaya: JAD Balas Dendam Aman Abdurrahman Ditangkap

KRIMINAL– Rangkaian teror bom di Surabaya dan sekitarnya, diduga merupakan aksi balas dendam para anggota kelompok terorisme Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Polisi menduga mereka tak terima atas penangkapan pimpinan mereka, Aman Abdurrahman.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menjelaskan, Aman Abdurrahman masih menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena keterlibatannya dalam tragedi bom Thamrin. Hal itulah yang menjadi pemicu jamaah JAD beraksi.

“Ini (teror bom-red) gerakan balas dendam karena Aman Abdurrahman ditangkap kembali, kan dia harusnya sudah lolos, sudah selesai terkait yang kasus pelatihan militer di Aceh,” ucap Setyo di Kantor Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Meski kasus pelatihan militer di Aceh selesai disidangkan, Aman kembali disebut menjadi otak teror Bom Thamrin dan Kampung Melayu, sehingga proses peradilan Aman belum usai hingga saat ini.

“Tetapi kita masih punya bom Thamrin, dia yang perintahkan dan (sponsori) dananya makanya kita tangkap lagi. Inilah trigger yang membuat mereka (jemaah JAD-red) balas dendam,” imbuh Setyo.

Menurut Setyo, polisi merupakan salah satu sasaran utama para pelaku teror. “Polisi itu menjadi sasaran karena polisi dianggap menghambat mereka (teroris),” pungkas Setyo.

Saat ini pemantauan dan pengawasan sel-sel hingga di tingkat daerah, terus dimaksimalkan. Meskipun Kapolri menegaskan sel-sel napi teroris JAD terbesar masih berada di kawasan Jabodetabek, Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Jadi yang sudah disampaikan Bapak Kapolri, sel JAD bangkit dan yang paling besar itu ada di Jawa Barat, Jabodetabek dan Jawa Timur. Oleh sebab itu ini yang kita waspadai, tapi daerah lain juga ada seperti Bima dan Poso,” tutup Setyo.

Aman merupakan otak dari pengeboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016 lalu dan pengeboman di terminal Kampung Melayu pada pertengahan 2017. Sebelumnya, Aman pernah ditangkap pada 21 Maret 2004, setelah terjadi ledakan bom di rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, saat dia disebut sedang melakukan latihan merakit bom.

Pada 2 Februari 2005, Aman divonis hukuman penjara selama tujuh tahun. Selesai menjalani hukuman, pada Desember 2010 Aman kembali ditangkap karena terbukti membiayai pelatihan kelompok teroris di Jantho, Aceh Besar dan ditahan di LP Nusakambangan.

Aman divonis 9 tahun penjara, hingga dinyatakan bebas di hari kemerdekaan. Namun Aman tidak langsung bebas, ia dipindahkan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Ia disebut memiliki pandangan bahwa pemerintah Indonesia dan ideologi Pancasila merupakan falsafah kafir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *