Seluruh warga Indonesia harus terjangkau internet

Seputar Ligacapsa – Sudah menjadi rahasia umum, kualitas internet untuk daerah-daerah tertentu masih kurang layak sehingga menimbulkan ketimpangan kualitas internet. Menurut Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono, hal itu disebabkan ketersediaan infrastruktur yang kurang memadai.

Sementara, di era digital seperti sekarang ini, pengembangan sektor komunikasi dan informatika sudah harus menjadi prioritas.

Masalah infrastruktur ini harus diberesi. Semua warga Indonesia harus mendapat kemudahan akses teknologi digital. Kalau tidak, aplikasinya tidak tumbuh dengan baik, kata Kristiono dikutip dari laman resmi Mastel.id, Sabtu (14/4).

Menurut Kristiono yang juga didaulat kembali sebagai Ketua Umum Mastel periode 2018-2021 itu, sektor teknologi dan informatika berkembang tergantung keberadaan infrastruktur. Sementara, pemerintah sendiri tak berbuat banyak terkait ini.

Namun Indonesia tidak sendiri. Pembangunan infrastruktur internet pun masih menjadi pembahasan yang serius di sejumlah negara dunia. Semua tergantung swasta. Infrastruktur itu cerita yang tidak pernah selesai, katanya.

Untuk itulah perlu adanya peran pemerintah untuk membantu mengembangkan infrastruktur telekomunikasi dengan membuat kebijakan yang dapat meringankan beban korporasi.

Beban operator juga harus dikurangi dari segi pajak, pemberian insentif dan lainnya. Jadi artinya persoalan infrastruktur masih sangat besar, ujarnya.

Pengguna internet meningkat

Merujuk survei internet yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, menyebutkan bahwa penetrasi pengguna internet di Indonesia meningkat menjadi 143,26 juta jiwa atau 54,68 persen dari 262 juta jiwa penduduk negeri ini. Sebelumnya, berdasarkan survei yang dilakukan APJII pada tahun 2016, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 132,7 juta jiwa.

APJII membagi penetrasi pengguna internet berdasarkan karakter kota atau kabupaten, yakni daerah Urban, Rural-Urban, dan Rural. Wilayah Urban merupakan daerah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor non-pertanian.

Kemudian, Rural-Urban merupakan wilayah administratif yang besar GDP seimbang bersal dari sektor pertanian dan non pertanian. Sedangkan Rural adalah wilayah administratif yang sebagian besar GDP berasal dari sektor pertanian. Berdasarkan pembagian itu, wilayah Urban tentu lebih tinggi daripada Rural-Urban dan Rural sebesar 72,41 persen. Sedangkan Rural-Urban 49,49 persen dan Rural 48,25 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *