Persaingan sengit dua kader NU merebut kursi Jawa Timur satu

Berita Unik Persaingan buat merebut kursi pemimpin Jawa Timur dipastikan bakal terus sengit. Sebabnya, elektabilitas kedua pasangan calon yakni Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistanto Dardak dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno cuma berbeda tipis.

Berdasarkan survei Litbang Kompas yang dirilis, Senin (12/3) kemarin, Khofifah-Emil hanya unggul tipis 0,5 persen dari Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Artinya peluang keduanya masih sangat terbuka lebar karena 11,5 persen responden belum menentukan pilihan dan Margin of error sebesar +- 3,46 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei itu, Khofifah-Emil unggul di empat dari enam wilayah zonasi Jawa Timur, yakni di; Mataraman Pesisir (Bojonegoro, Lamongan, Tuban), Mataraman (Pacitan, Madiun, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Nganjuk, Kediri, Ngawi, Blitar, Tulungagung), Madura (Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sumenep), dan di Osing (Banyuwangi).

Sementara pasangan Gus Ipul-Puti berhasil unggul dari Khofifah di dua wilayah yakni; Arek (Gresik, SurabayaMalang, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo) dan di Pandalungan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang).

Survei dilakukan 19 Februari hingga 4 Maret 2018. Jumlah responden yakni 800 responden. Responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan proporsional bertingkat dan diwawancara secara tatap muka. Margin of error sebesar +- 3,46 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengamat Politik LIPI, Siti Zuhro menilai perilaku pemilih di Jatim masih cukup dinamis meski saat ini dukungan pemilih ke Khofifah-Emil berdasarkan survei lebih besar. Dia memprediksi persaingan ke depan akan lebih sengit lagi.

“Peluang semua calon relatif prospektif menyongsong hari H pencoblosan. Peluang untuk memenangkan pilkada akan banyak ditentukan oleh konteks atau momen yang bisa dimainkan oleh pasangan calon,” katanya kepada merdeka.com, tadi malam.

Menurutnya, peluang kemenangan masing-masing calon akan ditentukan oleh kepiawaian mereka dalam mengelola aspirasi dan kepentingan masyarakat. Begitu juga dengan pasangan Khofifah-Emil. Meski sudah unggul tipis, tapi masih ditentukan oleh kepiawaian keduanya ke depan.

“Apakah peluang kemenangan pasangan Khofifah lebih besar? Ini akan ditentukan oleh kepiawaiannya dalam mengelola aspirasi dan kepentingan rakyat,” katanya.

Sementara itu, peneliti CSIS, Arya Fernandez menilai Khofifah-Emil terus mengejar pasangan Gus Ipul-Puti. Kontribusi Emil Dardak di sejumlah wilayah memberi dampak suara terhadap pasangan nomor urut 1 itu.

“Sisi zonasi faktor-faktor politik masa lalu akan mempengaruhi pilihan Khofifah. Begitu juga dari sisi wakil kontribusinya mempengaruhi. Tingkat pengenalnya, tingkat keterpilihan personal, karena pertarungan personal. Faktor yang menemui faktor personal kandidat,” kata Arya, kemarin.

Arya menilai adanya kerapuhan pemilih dari kader atau simpatisan partai pendukung Gus Ipul. Sementara dukungan mesin partai Khofifah-Emil semakin solid.

“Pemilih ini otonom. Bisa saja mereka punya pilihan berbeda dengan dukungan partai mereka. Dalam banyak pilkada. Pemilih partai politik tidak linier dengan usungan partai. Karena pemilu kan otonomi punya metode sendiri punya penilaian sendiri. Bila terjadi posisi itu. Partai tidak punya kuasa 100 persen untuk menentukan pilihan, kader, simpatisan,” katanya.

Dia menilai Khofifah yang notabene Ketum Muslimat NU akan terus mempengaruhi pilihan kader partai. Apalagi jika Khofifah bisa mengambil suara pemilih PKB.

“PDIP di bawah 50 persen. Itu menarik sisi itu tidak mengakar. Puti diimpor dari Jawa Barat. Karena tidak mengakar di Jawa Timur. Sementara PKB tidak begitu optimal karena basis lari ke Khofifah. Kalau Khofifah ambil suara PKB itu akan membantu Khofifah,” katanya