Calon Wakil Wali Kota Bandung mengaku hampir menangis lihat kemiskinan warga

POLITIK–  Perjalanan kampanye calon wakil wali kota Bandung Chairul Yaqin Hidayat belum sebulan. Akan tetapi, dia mengklaim telah banyak menyelami kehidupan warga di Kota Bandung. Terutama yang hidup di garis kemiskinan.

Pria yang akrab disapa Ruli ini mencermati jika masalah kesejahteraan sosial di Kota Bandung banyak tersembunyi. Sejumlah data yang muncul ke ranah publik terkadang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Janji perlindungan melalui surat keterangan tidak mampu (SKTM) tidak mampu menjamin sejumlah warga dalam akses dasar, yakni layanan kesehatan.

“Banyak banget masalah euy. Banyak banget temuan mereka yang harusnya mendapat bantuan sosial, tapi mereka enggak terdata. Jadi ketika mereka mau membuat SKTM pun kata RW-nya ‘sanes (belum) rezeki ibu’. Kumaha maksudna sanes rezeki teh atuh? kan semua orang harus terjamin pemerintah, lain soal rezeki,” kata Ruli dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Minggu (11/3).

Keluhan warga itu didapat saat kampanye di wilayah Karangtineung. Ruli menceritakan saat bertemu satu keluarga yang menghadapi persoalan kesehatan cukup pelik. Seorang ibu yang baru melahirkan tidak bisa memberi asupan ASI pada bayinya. Karena sang ibu mengidap hepatitis. Keluarga itu tidak memiliki jaminan layanan kesehatan karena terkendala pengurusan SKTM.

“Padahal, aduh saya teh sampe mau nangis, itu ibu punya anak, anaknya hamil mau melahirkan, ibunya punya hepatitis B, jadi enggak bisa ngasih ASI, anaknya jadi kurang gizi. Si nenek mau bikin SKTM, tapi, ya kata RW-nya itu, sanes rezeki,” katanya.

Ruli makin berhasrat memenangkan Pilwalkot untuk kemudian membenahi Bandung. Sebab, dalam setiap pertemuan dengan warga dengan kondisi terpuruk dan membutuhkan, dia tidak bisa berbuat banyak karena diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu).

Ruli menuturkan, uang dari kantong pribadi yang sebenarnya bisa diberikan kapanpun tidak diperkenankan untuk diberikan saat kampanye, apapun kondisi warga yang ditemuinya. Dalam aturan kampanye, kandidat dilarang memberikan uang atau imbalan karena dianggap sebagai politik uang.

“Masalah kesejahteraan sosial ini udah bener-bener temuan yang paling menyentuh hati, menyentuh kepekaan sosial saya. Sehingga saya sih berniat kalau enggak kepilih pun, saya mau jadi aktivis sosial, mau memperjuangkan mereka yang ada di ketertinggalan ekonomi,” tutur pengusaha yang besar di bidang properti itu.

Ruli ingin membenahi data warga miskin di Kota Bandung. Setelah data yang didapat sesuai dengan jumlah dan kondisi di lapangan, sejumlah program pengentasan masalah kesejahteraan sosial langsung dijalankan.

“Kita ingin program perhatian kepada masyarakat miskin ini tepat sasaran. Akurasi data ini penting biar nanti enggak ada laporan warga yang bener-bener butuh bantuan malah kelewat,” ucapnya.