Cerita Akhir Pekan: Minimalkan Sampah Rumah Tangga dengan Berkebun

LIGACAPSA    Berkebun jadi salah satu aktivitas yang banyak diminati masyarakat belakangan ini, terlebih di masa pandemi corona Covid-19. Mereka meluangkan waktu karena banyak kegiatan yang dikerjakan dari rumah.

Saya suprise banyaknya orang yang berkebun dari diskusi daring yang kami lakukan. Namun, banyaknya orang yang berkebun,

tak lepas dari booming-nya tanaman hias,” ujar pegiat Indonesia Berkebun, Ida Amal saat dihubungi Sabtu, 1 Agustus 2020.

Dari situ, Ida mengarahkan mereka bahwa berkebun, tak hanya soal tanaman hias, tapi juga soal menanam sayuran. Menanam sayur juga banyak memberikan manfaat, seperti mengurangi sampah rumah tangga.

Dari menanam sayur dan tanaman hias, maka mereka perlu pupuk kandang. Mereka perlu kompos untuk menyuburkan tanaman mereka.

Mereka bisa membuat kompos dari sisa buah maupun sisa sayuran. Dengan begitu, berkebun akan mengurangi sampah rumah tangga,” tutur Ida yang juga mengajar di Akademi Berkebun yang berada di bawah Indonesia Berkebun.

Ida menambahkan, berkebun dengan menanam sayuran juga memotong jalur distribusi. Karena sayuran yang ditanam di halaman langsung masuk ke dapur dan tak menggunakan sarana transportasi.

Dengan memotong jalur distribusi itu, maka akan mengurangi jejak karbon. Selain itu, juga mengurangi penggunaan kantong kemasan,” ujar Ida.

Berkebun juga dapat menghijaukan lingkungan, mengurangi pengeluaran uang belanja, bisa juga meredam stres. “Jadi, berkebun memiliki banyak manfaat dan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” kata Ida

Secara terpisah, Intan dari Depok Berkebun menegaskan, berkebun dapat mengurangi sampah rumah tangga, baik sampah organik maupun sampah anorganik. Sampah orgaik di antaranya sisa makanan, sayuran, atau buah-buahan, sedangkan sampah anorganik, seperti sampah plastik.

Sisa-sisa makanan bisa dimasukkan ke lobang biofori yang dapat menyuburkan tanah,” ujar pegiat Depok Berkebun Intan kepada , Sabtu, 1 Agustus 2020.

Intan menambahkan, dengan sisa makanan, buah, maupun sayuran, kemudian dibuat kompos. Kompos itu kemudian digunakan sebagai media tanam untuk keperluan berkebun.

Daun-daun yang berguguran pun dapat digunakan untuk membuat pupuk. Jadi, jangan dibakar daun-daun yang bergururan itu, karena kalau dibakar akan menimbulkan polusi,” ujar Intan yang

juga pendiri Zam Hydroclay Pot. “Kompos yang dibuat bisa dijual sehingga jadi income buat keluarga,” imbuh Intan yang juga fokus pada pembuatan komposter.

Kata Intan, sampah-sampah plastik yang dalam rumah bisa dimanfaatkan untuk membuat ecobrick. Ecobrick merupakan botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological.

Dari plastik bisa dibuat ecobrick atau bedengan. Dengan begitu suasana kebun akan menjadi lebih indah.” kata intan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *