Cerita Akhir Pekan: Di Balik Tradisi Makan Besar Saat Imlek

LIGACAPSA   kurang lengkap tanpa rentetan tradisi yang mengiringi euforia perayaannya. Satu yang tak pernah lepas dari momentum ini adalah kebiasaan makan besar, di mana biasanya dilakukan bersama keluarga besar.

Namanya perayaan selalu tentang makan, begitu juga dengan Imlek.

Makan itu bisa diartikan sebagai pemersatu yang sangat universal,

perekat pertemuan keluarga   kata Kepala Kajian Budaya Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) Aji Bromokusumo saat ditemui di bilangan Jakarta Pusat, 22 Januari 2020.

Sebagai ‘bahasa universal’, Aji menuturkan, tradisi makan saat Imlek harusnya bisa dilakukan tanpa memandang etnis dan agama tertentu. Pasalnya, kebiasaan ini notabene bertujuan merajut nuansa kekeluargaan yang lebih erat.

Soal makanan, setiap keluarga biasanya punya menu khas masing-masing. Tapi, memang ada beberapa yang sudah umum dikenal,” ucapnya. Ia menyontohkan ikan sebagai salah satu menu familar saat perayaan Imlek.

Lalu, kue keranjang. Di Tiongkok sendiri tidak mengenal kue keranjang, tapi kue tahun baru. Asimilasi budaya Tiongkok-Indonesia oleh imigran, yang kebanyakan keturunan Hokkian, menghasilkan kuliner khas tersebut,” ucap Aji.

Ia menceritakan, kue tersebut aslinya berbentuk lonjong. “Mirip lontong kalau di sini imbuhnya.

Tapi  karena imigran mulai makan gula dan kue-kue tersebut kemudian dicetak di dalam keranjang,

terciptalah kue keranjang seperti yang dikenal sekarang.

Filosofi di balik salah satu makanan khas Imlek ini adalah makin tahun, makin tinggi.

Maksud tinggi, yakni bisnis kian bagus, kesehatan tetap atau malah makin baik, serta semua urusan diperlancar.

Lengketnya tepung ketan yang merupakan bahan pembuat kue keranjang diartikan mengeratkan kekerabatan sambungan

Keluarga saya sendiri punya menu khas, yaitu cah rebung. Sepertinya sudah tidak banyak keluarga yang menyajikan ini (cah rebung). Filosofinya,

setiap tahun ada harapan baru, tunas baru. Rebung kan berbuku, beruas, makin ke atas, makin tinggi. Jadi, bisa diartikan simbol harapan baik, doa yang baik,” papar Aji

Aji mengatakan, tradisi makan besar, walau ada yang melakukannya di malam tahun baru Imlek, sebenarnya bisa digelar secara terus-menerus. “Jadi, sebenarnya sama saja kayak Lebaran. Ada keluarga datang, makanan keluar, makan lagi, begitu saja terus,” katanya.

Di tengah gagasan positif soal makan besar, Aji menyebut, perayaan Imlek dihiasi perdebatan apakah penyelenggaraannya identik pada agama atau budaya.

Karena beberapa tidak mau merayakan Imlek karena sudah menganut suatu agama. Pendapat seperti itu sah-sah saja menurut saya karena langsung berkaitan dengan apa yang mereka percayai. Hubungannya sudah vertikal dengan Tuhan,” ucapnya.

Kendati bagi Aji pribadi, Imlek adalah perayaan budaya,

di mana tradisi makan besar di dalamnya merupakan momen berkumpul dengan keluarga dan sama-sama berharap akan tahun yang lebih baik